TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG METODE, LINGKUNGAN DAN
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Di
Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Kelas
H Semester
IV, Dosen Pengampu Drs. H. Abdul
Wahab, M.Pd.I
Oleh
:
MUHAMMAD BOKHORI (112227)
ARINI HIDAYATI (112220)
KASDURI (112223)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM PATI
JURUSAN
TARBIYAH
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji dilimpahkan kepada Allah swt., yang telah
memberikan rahmat dan inayah-Nya karena tugas penyusunan makalah ini
terselesaikan.
Teriring sholawat dan salam kepada Nabi Agung Muhammad saw.,
yang dinantikan syafa’atnya besok diyaumil qiyamah. Amin
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam dengan judul “Tinjauan Filosofis Tentang Metode, Lingkungan dan
Kurikulum Pendidikan Islam “
Ucapan terima kasih disampaikan kepada :
1.
Drs. H. Abdul Wahab, M.P.d.I., Selaku
pengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam di STAI Pati Semester IV
Kelas H.
2.
Kelompok yang telah berupaya menyusun makalah ini semaksimal
mungkin.
3.
Mahasiswa STAI Pati khususnya kelas H semester IV.
Disadari bahwa makalah ini masih banyak
kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritik yang konstruktif sangat
diharapkan. Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan oleh para
pembaca.
Pati, May 2014
Penulis
DAFTAR PUSTAKA
Adri, efferi, “Filsafat Pendidikan Islam” Kudus :Hova media Enterprees.2011.
Al-Rosyidin, Samsul Nizar, “ Filsafat Pendidikan Islam
dalam Pendidikan Historis, Teoritis dan
praktis”. Jakarta : Ciputat Prees.
Basri Hasan, “Filsafat Pendidikan Islam”. Bandung
:CV Pustaka Setia.2009.
M. Athiyah Al
Habsyi, dasar-dasar pokok pendidikan Islam. Jakarta: Bulan bintang.1970.
Salaluddin, Umar said, “Filsafat Pendidikan Islam” Jakarta:Raya
grafindo Persada, 1998.
Uhbiyati Nur, “Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Bandung:pustaka Setia.1997.
TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG METODE, LINGKUNGAN
DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
A.
PENDAHULUAN
Secara
fungsional pendidikan islam adalah upaya umat islam untuk menciptakan manusia
seutuhnya sesuai yang diharapkan oleh agama yaitu sebagai insan kamil yang
dilakukan melalui pembelajaran edukatif
dan interaktif. Dengan demikian
pendidikan agama Islam adalah rekayasa Individu maupun kelompok dalam
menyiapkan generasi yang lebih baik, berpengatahuan, kuat iman dan memilki
akhlak yang baik sesuai dengan tututan agama dan masyarakat yang ada
disekitarnya. Dalam merekayasa model pendidikan Islam maka dibutuhkan
seperangkat pendukung yang akan dimenjadi acuan dalam mencapai tujuan yang
diharapkan, perlulah dirancang sebuah
kurukulum yang mengacu pada ajaran islam dalam perancangan inilah diharapkan
sebuat filsafat mampu memberikan arah yang pasti dalam menunjukan mata angin
keislaman yang tepat.
Pada
saat kurikulum telah terbentuk dengan sedemikian rupa maka dibutuhkanlah sebuah
metode dalam penyampaiannya. Tanpa metode proses pemberian pengetahuan Islam
yang ideal akan pincang, begitu juga apabila metode yang dijalankan tidak
sesuai dengan kurikulum yang ada maka tidak akan mampu dipahami oleh penerima
pengetahuan (Peserta didik). Metode yang harus berjalan dengan kurikulum
pendidikan Islam harus tepat karena sangat berpengaruh dalam sukses atau
tidaknya proses pendidikan islam. Sebagus apapun sebuah kurikulum jika
metodenya salah atau tidak tepat maka mustahil tujuan pendidikan Islam akan
tercapai dengan sempurna, hendaknya metode yang baik dalam kurikulum yang bagus
adalah metode yang dapat berjalan berdampingan dengan kurikulum yang telah
dibuat dan dirancang dengan baik
Berikut
akan dijelaskan mengenai filosofis
penentuan metode, kurikulum dan lingkungan dalam pembuatan suasana pendidikan
dan tujuan pendidikan yang berkarakter agama Islam yang kuat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana tinjauan filosofis tentang metode?
2.
Bagaimana tinjauan filosofis tentang
lingkungan?
3.
Bagaimana tinjauan filosofis tentang
kurikulum?
C.
PEMBAHASAN
1.
Tinjauan filosofis Tentang Metode Pendidikan
Islam
Metode adalah sebuah cara untuk mencapai/melakukan
sesuatu secara akurat benar dan dapat dipahami serta memudahkan bagi yang
memperlajarinya. Dalam pendidikan Islam sebuah metode sangat penting bahkan
bersifat wajib, ini guna untuk mempermudah objek pendidikan untuk memahami
materi yang akan diberikan. Ada pun metode pendidikan tersebut diantaranya :[1]
1.
Muhakamah Aqliyah
Berpikir dengan akal mengenai segala sesuatu, dalam
tingkat ini Al Quran mengajari pada manusia untuk berpikir mengenai asal usul
dirinya, bagaimana cara pembuatannya, kemudian perkembangan fisik dan
spirutualnya disinilah manusia dituntun dan diberikan konsep dasar untuk
diteliti. Filsafat kemudian berperan untuk mengembangkan dan mendampingi
penelitian untuk mencari kebenaran dan keakuratan fakta.
2.
Al Qisah Wal Tarikh
Mengunakan cerita cerita yang telah ada pada zaman dahulu
yang terdapat dalam Al Quran agar manusia belajar bagaimana kesalahan dan
panutan yang dapat diperoleh oleh manusia serta mengajaknya bercermin dengan
fakta-fakta masa dulu sehingga manusia dapat memetik hikmah yang terkandungnya
dan mereka agar lebih hati-hati dan berani menjalani masa depanya.
3.
Al-Itsarah Al Wijdariyah
Memberikan rangsangan kepada objek pendidikan supaya
mereka tergerak untuk merasakan dan melakukan sesuatu sesuai arahan yang telah dirumuskan.
Pemberian rangsangan termasuk juga membantu dalam penanaman karakter siswa.
Adapun rangsangan-rangsangan tersebut adalah
Ø Perasaan pendorong yaitu gembira, harapan, hasrat dan lainnya.
Ø Perasaan penahan yaitu rasa takut (berbuat kejahatan), rasa sedih (berbuat
kedzoliman), rasa khawatir dan sebagainya
Ø Rasa kekaguman yaitu rasa cinta, kagum, pengabdian rasa bakti dan lainnya.
Dari keterangan diatas Muhammad Quth
menambahkan bahwa teknik metode pendidikan islam dapat dilakukan melalui
delapan macam yaitu :[2]
1. Pendidikan melalui Teladan
Pendidikan melalui cara ini termasuk efisien dan suksen
ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw secara langsung.
2. Pendidikan melalui Nasehat
Dalam diri manusia pada dasarnya telah memiliki sifat dan
sikap untuk terpengaruh, dengan demikian maka diharapkan dalam memberikan
pengaruh dan nasehat kepada objek pendidikan yang baik dengan nasehat yang
bijaksana dan tanpa kekerasan.
3. Pendidikan melalui Hukuman
Apabila kedua senjata diatas tidak mempan maka pendidik
diperbolehkan untuk memberikan hukuman kepada objek pendidikan dengan
batasan-batasan tertentu.[3]
4. Pendidikan Melalui Cerita
Cerita adalah salah satu cara pentransferan ilmu yang
cukup baik dan akurat, ini dicontohkan dari kalam Allah yang telah menggunakan teknik/metode
cerita untuk menggiring umatnya mempelajari apa-apa yang telah terjadi. Cerita
memiliki daya tarik tersendiri bagi pendengar maupun pembaca sehingga disadari
atau tidak akan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang.
5. Pendidikan melalui Kebiasaan
Segala sesuatu yang dirasakan berat apabila telah
terbiasa maka akan terasa ringan. Islam juga menganjurkan bahkan memakai teknik
pembiasaan sejak kecil, karena sifat-sifat baik jika dibiasakan maka akan
menciptakan karakter dan kepribadian yang baik.
6. Menyalurkan kekuatan
Dalam Islam kekuatan adalah segala yang telah diisikan
dalam jasmani dan rohani sehingga manusia dapat hidup dan menjalani kehidupan
sesuai dengan tuntunan dan tuntutan. Kekuatan yang telah terisi dalam jiwa
maupun jasmani akan dikeluarkan semata untuk hidup, peran Islam adalah
mengarahkan kekuatan yang keluar untuk kebaikan.
7. Mengisi Kekosongan
Islam tidak meyukai manuasia menyia-nyiakan waktu. Islam
menginginkan manusia berfungsi sejak bangun tidur hingga tidur kembali
yaitu dengan mencari Ilmu dang mengisi kekosongan dengan hal-hal yang baik.
8. Pendidikan Melalu Peristiwa-Peristiwa
Dalam sebuah kejadian dan peristiwa-peristiwa baik yang
ditimbulkan karena tingkahlaku sendiri maupun tidak dalam sepanjang perjalanan
hidup maka harus diambil hikmah dan digunakan sebagai perbaikan kualitas
kehidupan dimasa yang akan datang.
Pada intinya adalah tanpa adanya sumbangsih
atau lontribusi dari filosofis pemikir Islam tidak akan dapat menentukan metode
dalam pengajaran Pendidikan Islam yang tepat dan mudah dipahami bagi objek
pendidikan.
2.
Tinjauan Filosofis tentang Lingkungan
Pendidikan dalam Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala
sesuatu yang berada diluar seseorang dan mempengaruhi perkembangannya baik
perkembangan fisik maupun perkembangan
psikologisnya.
Lingkungan sangat berpengaruh dalam pendidikan Islam, secara
umum pengaruh tersebut ada tiga yaitu :
1.
Pengaruh lingkungan Positif
Artinya lingkungan sekitar sangat mendukung dan mendorong
seseorang untuk menerima, memahami dan meyakini serta mengamalkan semua ajaran
Islam. Dalam arti lain seseorang memilki kebebasan untuk beragam dan didukung
penuh.
2. Pengaruh lingkungan Negatif
Lingkungan yang kurang mendukung atau menunjang
pendidikan seseorang untuk memahami, meneriama dan mengamalkan ajaran Islam.
3. Pengaruh Netral
Lingkungan seperti disebut apatis atau plin plan karena
lingkungan tidak mendunkung tetapi juga tidak melarang seseorang untuk
menerima, memahami dan mengamalkan Pendidikan Agama Islam.
Selanjutnya beberapa lembaga yang berpengaruh
sangat besar dalam pendidikan Agama Islam dalam kehidupan seseorang :[4]
1. Keluarga
Keluarga adalah ujung dari penanaman pendidikan
keagaamaan bagai seseorang. Peran lingkungan keluarga sangat penting dalam
pendidikan Islam. Keluaraga adalah lingkungan yang pertama dan utama dalam
penanaman pendidikan Agama Islam.
2. Sekolah
Sekolah adalah lembaga kedua yang sangat penting setelah
keluaraga. Sekolah berperan untuk memberikan pendidikan keagamaan yang mungkin
belum diterima dan belum didapatkan dari keluarga. Sekolah juga bersifat
menyempurnkan pendidikan yang didapat dari keluarga.
3. Masyarakat
Lingkungan nasyarakat adalah sebagai ajang praktek ilmu
keagamaan yang telah dimilki seseorang tetapi dalam lingkungan ini juga
memiliki pengaruh yang tidak kalah penting dari kedua lembaga diatas. Dalam
masyarakat terdapat organisasi-organisasi liar yang mengatasnamakan islam. Itu
jiga dapat memberikan pendidikan keagamaan bagai seseorang tetapi jika tidak
hati-hati maka akan terjerumus kedalam organisasi yang memiliki pemahaman yang
salah tentang Islam.
Jika di pikir lebih dalam bahwa semua manusia
tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya, dengan demikian lingkungan sangat
penting bagi pendidikan baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Dalam
konteks ini filosofis lingkungan dalam pendidikan Islam adalah filosofis
membantu masyarakat dan pendidik untuk menciptakan sebuah lingkungan yang
mendukung pendidikan agama Islam sehingga tujuan yang diinginkan akan mudah
tercapai.
3.
Tinjauan Filosofis Tentang Kurikulum
Pendidikan Islam
1.
Pengertian Kurikulum
Secara etimologi/istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir
yang artinya pelari dan curere yang artinya jarak yang harus
ditempuh oleh pelari. Kurikulum Juga dapat diartikan sebagai “a little race
caurse” (suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga
(pelari)), yang kemudian dialihkan dalam pengertian pendidikan menjadi
“circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran, dimana guru dan
murid terlibat didalamnya. [5]
Dalam bahasa Arab Kurikulum dikenal dengan kata manhaj yang berarti
jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Jika
dikaitkan pendidikan manhaj atau kurikulum berarti jalan terang yang
dilalui pendidik dengan orang-orang yang dididik untuk mengembangkan
penegtahuan, ketrampilan dan sikap mereka. Melihat pengertian kurikulum secara
istilah tersebut maka para ahli memiliki pandangan yang berbeda mengenai
kurikulum. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan pada kurikulum sebagai
rencana pembelajaran di suatu sekolah. Pelajaran dan materi apa yang harus
ditempuh disekolah.[6]
Ada beberapa pendapat mengenai
pengertian kurikulum :[7]
1. At-Dardasi sebagaimana
dikutip oleh Ramayulis
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, budaya, olahraga dan seni
yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya didalam atau diluar sekolah dengan maksud
menolongnya untuk berkembang, menyeluruh dalam segala segi dan perubahan
tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.
2. Hasan Langgulung
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial,
olahraga dan kesenian, baik yang ada didalam sekolah maupun diluar sekolah.
3. Nasution
Kurikulum tidak hanya memuat beberapa materi pelajaran melainkan termasuk
didalamnya usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik usaha
tersebut dilakukan dilingkungan sekolah mupun diluar lingkungan sekolah.
4. Jalaluddin dan Usman Said
Kurikulum adalah seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang
diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
5. Nana Syaodih Sukmadinata[8]
Kurikulum adalah rencana pendidikan atau pengajaran.
Kurikulum secara garis besar dapat diartikan sebagai seperangkat materi pendidikan
dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang
ingin dicapai. Oleh sebab itulah materi dalam kurikulum akan selalu mengalami
perubahan dalam menyesuaikan perubahan zaman. Bahkan disetiap negara berbeda
materi dan berbeda kurikulum.[9]
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum adalah
seperangkat pembelajaran dimana dalam kurikulum terdapat batasan dan anjuran dalam
mencapai pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik untuk mencapai tujuan agama
dan negara baik yang dilaksanakan dalam lingkungan sekolah maupun diluar
lingkungan sekolah. Kurikulum dijadikan sebagai landasan yang dipergunakan oleh
pendidik kearah tujuan pendidikan yang dicitakan melalui akumulasi sejumlah
pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam pembentukan kurikulum yang memiliki
tujuan memberikan sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental pada
peserta didik maka dibutukan ikut campur filsafat dalam perancangannya agar
setiap perancangan tidak serampangan dan asal-asalan.
2.
Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum ciri-ciri kurikulum adalah :
a. Tujuan pendidikan yang
ingin dicapai
b. Pengetahuan (knowlege),
aktivitas, pengalaman, ilmu menjadi sumber kurikulum
c. Metode dan cara transfer
of knowlage
d. Metode dan cara penilaian
Tetapi menurut Al-Syaibany, kurikulum pendidikan Islam harus memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Kurikulum pendidikan Islam
harus menonjolkan pendidikan Agama dan Moral yang bersumber dari Al Quran dan
hadis.
b. Kurikulum pendidikan Islam
harus mencakup tiga aspek yaitu aspek
jasmani, aspek akal dan aspel rohani.
c. Kurikulum pendidikan islam
harus menyeimbangkan pendidikan antara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat,
pribadi dan masyarakat, dimana keseimbangan tersebut bersifat relatif karena
tidak dapat diukur secara objektif.
d. Kurikulum pendidikan Islam
juga harus memperhatikan bakat yang dimiliki peserta didik dan juga ketrampilan
dan kemampuan yang dimiliki peserta didik.
e. Kurikulum juga dapat
membedakan antara kebudayaan yang satu dengan yang lain
Dalam kurikulum pendidikan Islam sebenarnya telah digariskan secara global
dalam alquran dimana dalam sebuah kurikulum harus mencakup 4 komponen yang
antara satu dengan yang lain saling berkaitan dalam menciptakan sebuah kurikulum.
Keempat komponen itu adalah :
|
Evaluasi hasil pembelajaran
|
|
|
|
ISI/Materi
yang sesuai dengan pendidikan Islam
|
|
Metode/ cara penyampaian Materi
|
Dari bagan diatas dapat dijelaskan bahwa dalam kurikulum itu ada yang
namanya tujuan yang ingin dicapai semaksiamal mungkin yang sesuai dengan tujuan
pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut maka terbentuklah ISI/ Materi
yang harus dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik. Untuk memberikan
isi/materi tersebut maka dibutuhkan sebuah Metode/cara yang tepat agar sesuai
dengan Tujuan yang ingin dicapai. Setelah semua berjalan maka tibalah saatnya
untuk mengevaluasi sebuah Isi dan metode yang dijadikan konsep pencapaian
tujuan yang sesuai dengan pendidikan Islam. Di sinilah filsafat ditantang untuk
mampu menyamakan atau menyatukan dan
menyambungkan pendidikan dalam sebuah aspek kehidupan dengan pedoman Agama
serta nilai-nilai yang terdapat dalam Al Quran dan hadis tanpa tertinggal oleh
kemajuan zaman.
3.
Asas-Asas Kurikulum Pendidikan Islam
Dalam menyusun kurikulum pendidikan
Islam maka perlu memperhatikan beberapa asas yang harus dimiliki dalam sebuah
kurikulum pendidikan Islam. Asas –asas tersebut diantaranya adalah asas
filosofis, sosiologis, organisatoris dan psikologis. Maksud asas-asas tersebut adalah :[10]
1. Asas Filosofis
Peran asas filosofis dalam penyusunan adalam membawa arah tujuan pendidikan
Islam yang mengandung kebenaran, terutama dalam bidang nilai-nilai keIslaman
yang dapat dijadikan pedoman hidup. Kontribusi asas filosofis terhadap
penyusunan kurikulum membawa pada 3 dimensi:
a. Dimensi Ontologi
Dimensi ini lebih mengarahkan kurikulum pada pemberian materi kepada
peserta didik yang langsung dihubungkan dengan fisik objek-objeknya. Contohnya
adalah pelajaran yang dilakukan dialam, sehingga peserta didik mampu mengetahui
secara langsung bentuk, ukuran dan fisik objek yang diajarkan.
b. Dimensi Epistimologi
Dimensi ini menwujudkan kurikulum untuk menjadikan dasar berfikir secara
universal, kritis, berpengetahuan yang luas. Contohnya penelitian, diskusi dan
berpendapat.
c. Dimensi Axiologi
Axiologi mengarahkan kurikulum pendidikan Islam pada kepuasan terhadap diri
peserta didik dalam menguasai ilmu pengetahuan sehingga dapat dimanfaatkan
dalam kehidupan masa depan.
Filsafat pada dasarnya adalah inti pemikiran yang menciptakan teori dan
konsep dari filosof. Yang akhirnya teori dan konsep tersebut diolah untuk
penyusunan kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Hadis.
2. Asas Sosiologis
Asas ini memberikan dasar pada kurikulum pendidikan Islam mengenai apa yang
harus dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, budaya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
3. Asas Organisatoris
Asas yang meberikan dasar dalam dua arah yaitu secara horisontal yang
merupakan pengorganisasian dan/atau pemilihan materi-materi mengenai mata pelajaran yang akan diberikan pada
peserta didik, dan secara vertikal yaitu pengorganisasian kurikulum yang
berhubungan dengan pelaksanaan pengajaran serta pengaturan kegiatan secara
menyeluruh.
4. Asas Psikologis
Dengan dasar asas ini, maka perumusan kurikulum dapat mempertimbangkan
psikis pada anak dalam perkembangan jasmaniah dan minat individu.
D.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Metode adalah sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu sehingga objek
pendidikan dapat mudah memahaminya dan sesuai tujuan yang diharapkan. Ada
beberapa metode pendidikan Islam muhakamah aqliyah, al qisoh wal Tahrikh dan Al
Itsaroh wal Wijdarah serta adapula yang berpendapat teknik metode pendidikan
Islam adalah melalui teladan, hukuman, dan lain sebagainya. Lingkungan adalah
segala sesuatu yang berada disekitar kita yang mempengaruhi perkembangan
seseorang. Lembaga yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam adalah
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Kurikulum adalah seperangkat bahan ajar dimana didalamnya terdapat anjuran
dan harapan yang diingikan untuk dimiliki peserta didik. Dalam kurikulum harus
terdapat empat komponen yang saling berkaitan. Komponen tersebut adalah :
1. Tujuan
2. Isi
3. Metode
4. Evaluasi
Peran filsafat dalam pendidikan Islam adalah sangat penting, karena dengan
berfilsafat dapat mendapatkan cara/metode yang tepat dan jitu untuk menciptakan
generasi yang lebih berkualitas memiliki pengetahuan umum dan agama yang kuat.
Mungkin filsafat lebih berpengaruh lebih besar dari yang diketahui.
B.
Saran
Pembaca dimohon
untuk mencari dan menggali lebih dalam mengenai materi diatas.
[1]Pendapat ini dikemukakan oleh Ustadz Muhammad
Said Ramadhan Al-buwy-thi dalam bukunya yang berjudul “Al-Man hajut Tarbawi
farid fil quran” beliau mengatakan bahwa metode pendidikan Islam ada tiga yang
sesuai dengan quran. Lebih jelasnya buka Uhbiyati Nur, “Ilmu Pendidikan Islam
(IPI), Bandung:pustaka Setia.1997. hlm:218-220.
[3]
M. Athiyah Al Habsyi mengemukakan 3 syarat
dalam pemberian hukuman jasmani kepada objek pendidikan yaitu 1. Sebelum umur
10 tahun anak tidak boleh dipukul, 2. Pukulan tidak boleh lebih dari 3 kali
(dengan alat lidi maupun tongkat kecil bukan tongkat besar), 3. Memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk merenungi dan menyadari kesalahan serta
usaha untuk memperbaikinya tanpa harus menggunakan pukulan (yang membuat mereka
malu). Lebih jelasnya buka M. Athiyah Al
Habsyi, dasar-dasar pokok pendidikan Islam. Bulan bintang.1970:Jakarta.
Hlm:157.
[6] Al-Rosyidin, Samsul Nizar, “ Filsafat
Pendidikan Islam dalam Pendidikan
Historis, Teoritis dan praktis”. Jakarta : Ciputat Prees. Hlm. 55-56
[7] Adri, efferi, “Filsafat Pendidikan Islam hlm:
92-93.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar