Rabu, 13 April 2016

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG METODE, LINGKUNGAN DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG METODE, LINGKUNGAN DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM







MAKALAH
Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Kelas H Semester IV, Dosen Pengampu Drs. H. Abdul Wahab, M.Pd.I
Oleh :

MUHAMMAD BOKHORI              (112227)         

ARINI HIDAYATI                           (112220)

KASDURI                                          (112223)



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI
JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
 2014





KATA PENGANTAR
Segala puji dilimpahkan kepada Allah swt., yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya karena tugas penyusunan makalah ini terselesaikan.
Teriring sholawat dan salam kepada Nabi Agung Muhammad saw., yang dinantikan syafa’atnya besok diyaumil qiyamah. Amin
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam  dengan  judul  “Tinjauan Filosofis Tentang Metode, Lingkungan dan Kurikulum Pendidikan Islam
Ucapan terima kasih disampaikan kepada :
1.      Drs. H. Abdul Wahab, M.P.d.I., Selaku pengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam di STAI Pati Semester IV Kelas H.
2.      Kelompok yang telah berupaya menyusun makalah ini semaksimal mungkin.
3.      Mahasiswa STAI Pati khususnya kelas H semester IV.
Disadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan. Semoga  makalah ini dapat dimanfaatkan oleh para pembaca.
Pati,    May 2014
Penulis






DAFTAR PUSTAKA
Adri, efferi, “Filsafat Pendidikan Islam”  Kudus :Hova media Enterprees.2011.
Al-Rosyidin, Samsul Nizar, “ Filsafat Pendidikan Islam dalam  Pendidikan Historis, Teoritis dan praktis”. Jakarta : Ciputat Prees.
Basri Hasan, “Filsafat Pendidikan Islam”. Bandung :CV Pustaka Setia.2009.
 M. Athiyah Al Habsyi, dasar-dasar pokok pendidikan Islam. Jakarta: Bulan bintang.1970.
Salaluddin, Umar said, “Filsafat Pendidikan Islam” Jakarta:Raya grafindo Persada, 1998.
Uhbiyati Nur, “Ilmu Pendidikan Islam (IPI),  Bandung:pustaka Setia.1997.



TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG METODE, LINGKUNGAN DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
A.          PENDAHULUAN
          Secara fungsional pendidikan islam adalah upaya umat islam untuk menciptakan manusia seutuhnya sesuai yang diharapkan oleh agama yaitu sebagai insan kamil yang dilakukan  melalui pembelajaran edukatif dan interaktif.  Dengan demikian pendidikan agama Islam adalah rekayasa Individu maupun kelompok dalam menyiapkan generasi yang lebih baik, berpengatahuan, kuat iman dan memilki akhlak yang baik sesuai dengan tututan agama dan masyarakat yang ada disekitarnya. Dalam merekayasa model pendidikan Islam maka dibutuhkan seperangkat pendukung yang akan dimenjadi acuan dalam mencapai tujuan yang diharapkan,  perlulah dirancang sebuah kurukulum yang mengacu pada ajaran islam dalam perancangan inilah diharapkan sebuat filsafat mampu memberikan arah yang pasti dalam menunjukan mata angin keislaman yang tepat.
          Pada saat kurikulum telah terbentuk dengan sedemikian rupa maka dibutuhkanlah sebuah metode dalam penyampaiannya. Tanpa metode proses pemberian pengetahuan Islam yang ideal akan pincang, begitu juga apabila metode yang dijalankan tidak sesuai dengan kurikulum yang ada maka tidak akan mampu dipahami oleh penerima pengetahuan (Peserta didik). Metode yang harus berjalan dengan kurikulum pendidikan Islam harus tepat karena sangat berpengaruh dalam sukses atau tidaknya proses pendidikan islam. Sebagus apapun sebuah kurikulum jika metodenya salah atau tidak tepat maka mustahil tujuan pendidikan Islam akan tercapai dengan sempurna, hendaknya metode yang baik dalam kurikulum yang bagus adalah metode yang dapat berjalan berdampingan dengan kurikulum yang telah dibuat dan dirancang dengan baik
          Berikut akan dijelaskan mengenai  filosofis penentuan metode, kurikulum dan lingkungan dalam pembuatan suasana pendidikan dan tujuan pendidikan yang berkarakter agama Islam yang kuat.
B.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana tinjauan filosofis tentang metode?
2.      Bagaimana tinjauan filosofis tentang lingkungan?
3.      Bagaimana tinjauan filosofis tentang kurikulum?














C.          PEMBAHASAN
1.            Tinjauan filosofis Tentang Metode Pendidikan Islam
Metode adalah sebuah cara untuk mencapai/melakukan sesuatu secara akurat benar dan dapat dipahami serta memudahkan bagi yang memperlajarinya. Dalam pendidikan Islam sebuah metode sangat penting bahkan bersifat wajib, ini guna untuk mempermudah objek pendidikan untuk memahami materi yang akan diberikan. Ada pun metode pendidikan tersebut diantaranya :[1]
1.      Muhakamah Aqliyah
Berpikir dengan akal mengenai segala sesuatu, dalam tingkat ini Al Quran mengajari pada manusia untuk berpikir mengenai asal usul dirinya, bagaimana cara pembuatannya, kemudian perkembangan fisik dan spirutualnya disinilah manusia dituntun dan diberikan konsep dasar untuk diteliti. Filsafat kemudian berperan untuk mengembangkan dan mendampingi penelitian untuk mencari kebenaran dan keakuratan fakta.
2.      Al Qisah Wal Tarikh
Mengunakan cerita cerita yang telah ada pada zaman dahulu yang terdapat dalam Al Quran agar manusia belajar bagaimana kesalahan dan panutan yang dapat diperoleh oleh manusia serta mengajaknya bercermin dengan fakta-fakta masa dulu sehingga manusia dapat memetik hikmah yang terkandungnya dan mereka agar lebih hati-hati dan berani menjalani masa depanya.
3.      Al-Itsarah Al Wijdariyah
Memberikan rangsangan kepada objek pendidikan supaya mereka tergerak untuk merasakan dan melakukan sesuatu sesuai arahan yang telah dirumuskan. Pemberian rangsangan termasuk juga membantu dalam penanaman karakter siswa. Adapun rangsangan-rangsangan tersebut adalah
Ø  Perasaan pendorong yaitu gembira, harapan, hasrat dan lainnya.
Ø  Perasaan penahan yaitu rasa takut (berbuat kejahatan), rasa sedih (berbuat kedzoliman), rasa khawatir dan sebagainya
Ø  Rasa kekaguman yaitu rasa cinta, kagum, pengabdian rasa bakti dan lainnya.
Dari keterangan diatas Muhammad Quth menambahkan bahwa teknik metode pendidikan islam dapat dilakukan melalui delapan macam yaitu :[2]
1.      Pendidikan melalui Teladan
Pendidikan melalui cara ini termasuk efisien dan suksen ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw secara langsung.
2.      Pendidikan melalui Nasehat
Dalam diri manusia pada dasarnya telah memiliki sifat dan sikap untuk terpengaruh, dengan demikian maka diharapkan dalam memberikan pengaruh dan nasehat kepada objek pendidikan yang baik dengan nasehat yang bijaksana dan tanpa kekerasan.
3.      Pendidikan melalui Hukuman
Apabila kedua senjata diatas tidak mempan maka pendidik diperbolehkan untuk memberikan hukuman kepada objek pendidikan dengan batasan-batasan tertentu.[3]


4.      Pendidikan Melalui Cerita
Cerita adalah salah satu cara pentransferan ilmu yang cukup baik dan akurat, ini dicontohkan dari kalam Allah yang telah menggunakan teknik/metode cerita untuk menggiring umatnya mempelajari apa-apa yang telah terjadi. Cerita memiliki daya tarik tersendiri bagi pendengar maupun pembaca sehingga disadari atau tidak akan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang.
5.      Pendidikan melalui Kebiasaan
Segala sesuatu yang dirasakan berat apabila telah terbiasa maka akan terasa ringan. Islam juga menganjurkan bahkan memakai teknik pembiasaan sejak kecil, karena sifat-sifat baik jika dibiasakan maka akan menciptakan karakter dan kepribadian yang baik.
6.      Menyalurkan kekuatan
Dalam Islam kekuatan adalah segala yang telah diisikan dalam jasmani dan rohani sehingga manusia dapat hidup dan menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan dan tuntutan. Kekuatan yang telah terisi dalam jiwa maupun jasmani akan dikeluarkan semata untuk hidup, peran Islam adalah mengarahkan kekuatan yang keluar untuk kebaikan.
7.      Mengisi Kekosongan
Islam tidak meyukai manuasia menyia-nyiakan waktu. Islam menginginkan manusia berfungsi sejak bangun tidur hingga tidur kembali yaitu dengan mencari Ilmu dang mengisi kekosongan dengan hal-hal yang baik.
8.      Pendidikan Melalu Peristiwa-Peristiwa
Dalam sebuah kejadian dan peristiwa-peristiwa baik yang ditimbulkan karena tingkahlaku sendiri maupun tidak dalam sepanjang perjalanan hidup maka harus diambil hikmah dan digunakan sebagai perbaikan kualitas kehidupan dimasa yang akan datang.
Pada intinya adalah tanpa adanya sumbangsih atau lontribusi dari filosofis pemikir Islam tidak akan dapat menentukan metode dalam pengajaran Pendidikan Islam yang tepat dan mudah dipahami bagi objek pendidikan.

2.             Tinjauan Filosofis tentang Lingkungan Pendidikan dalam Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar seseorang dan mempengaruhi perkembangannya baik perkembangan fisik maupun  perkembangan psikologisnya.
Lingkungan sangat  berpengaruh dalam pendidikan Islam, secara umum pengaruh tersebut ada tiga yaitu :
1.      Pengaruh lingkungan Positif
Artinya lingkungan sekitar sangat mendukung dan mendorong seseorang untuk menerima, memahami dan meyakini serta mengamalkan semua ajaran Islam. Dalam arti lain seseorang memilki kebebasan untuk beragam dan didukung penuh.
2.      Pengaruh lingkungan Negatif
Lingkungan yang kurang mendukung atau menunjang pendidikan seseorang untuk memahami, meneriama dan mengamalkan ajaran Islam.
3.      Pengaruh Netral
Lingkungan seperti disebut apatis atau plin plan karena lingkungan tidak mendunkung tetapi juga tidak melarang seseorang untuk menerima, memahami dan mengamalkan Pendidikan Agama Islam.
Selanjutnya beberapa lembaga yang berpengaruh sangat besar dalam pendidikan Agama Islam dalam kehidupan seseorang :[4]
1.      Keluarga
Keluarga adalah ujung dari penanaman pendidikan keagaamaan bagai seseorang. Peran lingkungan keluarga sangat penting dalam pendidikan Islam. Keluaraga adalah lingkungan yang pertama dan utama dalam penanaman pendidikan Agama Islam.
2.      Sekolah
Sekolah adalah lembaga kedua yang sangat penting setelah keluaraga. Sekolah berperan untuk memberikan pendidikan keagamaan yang mungkin belum diterima dan belum didapatkan dari keluarga. Sekolah juga bersifat menyempurnkan pendidikan yang didapat dari keluarga.
3.      Masyarakat
Lingkungan nasyarakat adalah sebagai ajang praktek ilmu keagamaan yang telah dimilki seseorang tetapi dalam lingkungan ini juga memiliki pengaruh yang tidak kalah penting dari kedua lembaga diatas. Dalam masyarakat terdapat organisasi-organisasi liar yang mengatasnamakan islam. Itu jiga dapat memberikan pendidikan keagamaan bagai seseorang tetapi jika tidak hati-hati maka akan terjerumus kedalam organisasi yang memiliki pemahaman yang salah tentang Islam.
Jika di pikir lebih dalam bahwa semua manusia tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya, dengan demikian lingkungan sangat penting bagi pendidikan baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Dalam konteks ini filosofis lingkungan dalam pendidikan Islam adalah filosofis membantu masyarakat dan pendidik untuk menciptakan sebuah lingkungan yang mendukung pendidikan agama Islam sehingga tujuan yang diinginkan akan mudah tercapai.
3.             Tinjauan Filosofis Tentang Kurikulum Pendidikan Islam
1.      Pengertian Kurikulum
Secara etimologi/istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Kurikulum Juga dapat diartikan sebagai “a little race caurse” (suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga (pelari)), yang kemudian dialihkan dalam pengertian pendidikan menjadi “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran, dimana guru dan murid terlibat didalamnya. [5]
Dalam bahasa Arab Kurikulum dikenal dengan kata manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Jika dikaitkan pendidikan manhaj atau kurikulum berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan orang-orang yang dididik untuk mengembangkan penegtahuan, ketrampilan dan sikap mereka. Melihat pengertian kurikulum secara istilah tersebut maka para ahli memiliki pandangan yang berbeda mengenai kurikulum. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan pada kurikulum sebagai rencana pembelajaran di suatu sekolah. Pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh disekolah.[6]
 Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kurikulum :[7]
1.      At-Dardasi sebagaimana dikutip oleh Ramayulis
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, budaya, olahraga dan seni yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya  didalam atau diluar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang, menyeluruh dalam segala segi dan perubahan tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.
2.      Hasan Langgulung
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian, baik yang ada didalam sekolah maupun diluar sekolah.
3.      Nasution
Kurikulum tidak hanya memuat beberapa materi pelajaran melainkan termasuk didalamnya usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik usaha tersebut dilakukan dilingkungan sekolah mupun diluar lingkungan sekolah.
4.      Jalaluddin dan Usman Said
Kurikulum adalah seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
5.      Nana Syaodih Sukmadinata[8]
Kurikulum adalah rencana pendidikan atau pengajaran.
Kurikulum secara garis besar dapat diartikan sebagai seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Oleh sebab itulah materi dalam kurikulum akan selalu mengalami perubahan dalam menyesuaikan perubahan zaman. Bahkan disetiap negara berbeda materi dan berbeda kurikulum.[9]
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum adalah seperangkat pembelajaran dimana dalam kurikulum terdapat batasan dan anjuran dalam mencapai pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik untuk mencapai tujuan agama dan negara baik yang dilaksanakan dalam lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. Kurikulum dijadikan sebagai landasan yang dipergunakan oleh pendidik kearah tujuan pendidikan yang dicitakan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam pembentukan kurikulum yang memiliki tujuan memberikan sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental pada peserta didik maka dibutukan ikut campur filsafat dalam perancangannya agar setiap perancangan tidak serampangan dan asal-asalan.
2.             Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum ciri-ciri kurikulum adalah :
a.       Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
b.      Pengetahuan (knowlege), aktivitas, pengalaman, ilmu menjadi sumber kurikulum
c.       Metode dan cara transfer of knowlage
d.      Metode dan cara penilaian
Tetapi menurut Al-Syaibany, kurikulum pendidikan Islam harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan pendidikan Agama dan Moral yang bersumber dari Al Quran dan hadis.
b.      Kurikulum pendidikan Islam harus mencakup tiga aspek yaitu  aspek jasmani, aspek akal dan aspel rohani.
c.       Kurikulum pendidikan islam harus menyeimbangkan pendidikan antara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, pribadi dan masyarakat, dimana keseimbangan tersebut bersifat relatif karena tidak dapat diukur secara objektif.
d.      Kurikulum pendidikan Islam juga harus memperhatikan bakat yang dimiliki peserta didik dan juga ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki peserta didik.
e.       Kurikulum juga dapat membedakan antara kebudayaan yang satu dengan yang lain
Dalam kurikulum pendidikan Islam sebenarnya telah digariskan secara global dalam alquran dimana dalam sebuah kurikulum harus mencakup 4 komponen yang antara satu dengan yang lain saling berkaitan dalam menciptakan sebuah kurikulum. Keempat komponen itu adalah :

Evaluasi hasil pembelajaran


ISI/Materi yang sesuai dengan pendidikan Islam

Metode/ cara penyampaian Materi
 




Dari bagan diatas dapat dijelaskan bahwa dalam kurikulum itu ada yang namanya tujuan yang ingin dicapai semaksiamal mungkin yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut maka terbentuklah ISI/ Materi yang harus dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik. Untuk memberikan isi/materi tersebut maka dibutuhkan sebuah Metode/cara yang tepat agar sesuai dengan Tujuan yang ingin dicapai. Setelah semua berjalan maka tibalah saatnya untuk mengevaluasi sebuah Isi dan metode yang dijadikan konsep pencapaian tujuan yang sesuai dengan pendidikan Islam. Di sinilah filsafat ditantang untuk mampu menyamakan atau  menyatukan dan menyambungkan pendidikan dalam sebuah aspek kehidupan dengan pedoman Agama serta nilai-nilai yang terdapat dalam Al Quran dan hadis tanpa tertinggal oleh kemajuan zaman.
3.             Asas-Asas Kurikulum Pendidikan Islam
Dalam menyusun  kurikulum pendidikan Islam maka perlu memperhatikan beberapa asas yang harus dimiliki dalam sebuah kurikulum pendidikan Islam. Asas –asas tersebut diantaranya adalah asas filosofis, sosiologis, organisatoris dan psikologis.  Maksud asas-asas tersebut adalah :[10]
1.      Asas Filosofis
Peran asas filosofis dalam penyusunan adalam membawa arah tujuan pendidikan Islam yang mengandung kebenaran, terutama dalam bidang nilai-nilai keIslaman yang dapat dijadikan pedoman hidup. Kontribusi asas filosofis terhadap penyusunan kurikulum membawa pada 3 dimensi:
a.       Dimensi Ontologi
Dimensi ini lebih mengarahkan kurikulum pada pemberian materi kepada peserta didik yang langsung dihubungkan dengan fisik objek-objeknya. Contohnya adalah pelajaran yang dilakukan dialam, sehingga peserta didik mampu mengetahui secara langsung bentuk, ukuran dan fisik objek yang diajarkan.
b.      Dimensi Epistimologi
Dimensi ini menwujudkan kurikulum untuk menjadikan dasar berfikir secara universal, kritis, berpengetahuan yang luas. Contohnya penelitian, diskusi dan berpendapat.
c.       Dimensi Axiologi
Axiologi mengarahkan kurikulum pendidikan Islam pada kepuasan terhadap diri peserta didik dalam menguasai ilmu pengetahuan sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan masa depan.
Filsafat pada dasarnya adalah inti pemikiran yang menciptakan teori dan konsep dari filosof. Yang akhirnya teori dan konsep tersebut diolah untuk penyusunan kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Hadis.
2.      Asas Sosiologis
Asas ini memberikan dasar pada kurikulum pendidikan Islam mengenai apa yang harus dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, budaya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.      Asas Organisatoris
Asas yang meberikan dasar dalam dua arah yaitu secara horisontal yang merupakan pengorganisasian dan/atau pemilihan materi-materi mengenai  mata pelajaran yang akan diberikan pada peserta didik, dan secara vertikal yaitu pengorganisasian kurikulum yang berhubungan dengan pelaksanaan pengajaran serta pengaturan kegiatan secara menyeluruh.
4.      Asas Psikologis
Dengan dasar asas ini, maka perumusan kurikulum dapat mempertimbangkan psikis pada anak dalam perkembangan jasmaniah dan minat individu.


D.           PENUTUP
A.           Kesimpulan
Metode adalah sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu sehingga objek pendidikan dapat mudah memahaminya dan sesuai tujuan yang diharapkan. Ada beberapa metode pendidikan Islam muhakamah aqliyah, al qisoh wal Tahrikh dan Al Itsaroh wal Wijdarah serta adapula yang berpendapat teknik metode pendidikan Islam adalah melalui teladan, hukuman, dan lain sebagainya. Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar kita yang mempengaruhi perkembangan seseorang. Lembaga yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Kurikulum adalah seperangkat bahan ajar dimana didalamnya terdapat anjuran dan harapan yang diingikan untuk dimiliki peserta didik. Dalam kurikulum harus terdapat empat komponen yang saling berkaitan. Komponen tersebut adalah :
1.      Tujuan
2.      Isi
3.      Metode
4.      Evaluasi
Peran filsafat dalam pendidikan Islam adalah sangat penting, karena dengan berfilsafat dapat mendapatkan cara/metode yang tepat dan jitu untuk menciptakan generasi yang lebih berkualitas memiliki pengetahuan umum dan agama yang kuat. Mungkin filsafat lebih berpengaruh lebih besar dari yang diketahui.
B.            Saran
Pembaca dimohon untuk mencari dan menggali lebih dalam mengenai materi diatas.



[1]Pendapat ini dikemukakan oleh Ustadz Muhammad Said Ramadhan Al-buwy-thi dalam bukunya yang berjudul “Al-Man hajut Tarbawi farid fil quran” beliau mengatakan bahwa metode pendidikan Islam ada tiga yang sesuai dengan quran. Lebih jelasnya buka Uhbiyati Nur, “Ilmu Pendidikan Islam (IPI),  Bandung:pustaka Setia.1997. hlm:218-220.
[2] Uhbiyati Nur, “Ilmu Pendidikan Islam...hlm:220-233.
[3] M. Athiyah Al Habsyi mengemukakan 3 syarat dalam pemberian hukuman jasmani kepada objek pendidikan yaitu 1. Sebelum umur 10 tahun anak tidak boleh dipukul, 2. Pukulan tidak boleh lebih dari 3 kali (dengan alat lidi maupun tongkat kecil bukan tongkat besar), 3. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merenungi dan menyadari kesalahan serta usaha untuk memperbaikinya tanpa harus menggunakan pukulan (yang membuat mereka malu). Lebih jelasnya buka  M. Athiyah Al Habsyi, dasar-dasar pokok pendidikan Islam. Bulan bintang.1970:Jakarta. Hlm:157.
[4]Uhbiyati Nur, Ilmu Pendidikan Islam...Hlm:237.
[5] Adri, efferi, “Filsafat Pendidikan Islam”  Kudus :Hova media Enterprees.2011. Hlm. 91-92.
[6] Al-Rosyidin, Samsul Nizar, “ Filsafat Pendidikan Islam dalam  Pendidikan Historis, Teoritis dan praktis”. Jakarta : Ciputat Prees. Hlm. 55-56
[7] Adri, efferi, “Filsafat Pendidikan Islam hlm: 92-93.
[8] Basri Hasan, “Filsafat Pendidikan Islam”. Bandung :CV Pustaka Setia.2009. hlm. 128.
[9] Salaluddin, Umar said, “Filsafat Pendidikan Islam” Jakarta:Raya grafindo Persada, 1998. Hlm. 43
[10] Adri efferi. “Filsafat Pendidikan Islam”.....hlm. 95-97

Tidak ada komentar:

Posting Komentar